Selasa, 28 Agustus 2012

Gua Lowo, Trenggalek



Trenggalek memiliki Gua Lowo serta sederet pantai yang menawan. Sebut saja sebagai contoh Pantai Prigi, Pantai Karanggongso, Pantai Pelang, Pantai Blado, dan Pantai Damas. Wisata Gua Lowo seolah menyimpan berbagai misteri. Menurut petugas Gua Lowo, Kasiadi, wisatawan akan merasakan dan menemukan keindahan alam bawah tanah yang menakjubkan sekaligus merasakan kebesaran Tuhan.
Kasiadi yang sudah bertugas 26 tahun ini bertutur,  manusia secanggih apapun tak akan mungkin mampu membuat gua seperti Gua Lowo ini. Bahkan untuk membangunnya akan menghabiskan anggaran sangat besar.  Masih kata Kasiadi, berdasarkan survei ahli gua dari Perancis, Mr. Gilbert Manthovani dan Dr Robert K Kho pada tahun 1984, Gua Lowo sepanang 2 kilometer itu merupakan gua alam terbesar di Asia Tenggara, bahkan di Asia. Namun saat ini yang bisa ditembus untuk wisata baru sepanjang 800 Meter dengan 9 (sembilan) ruang utama dan beberapa ruang kecil.
Sisa panjang gua 1,2 km belum bisa ditembus karena di dasarnya ada sungai sehingga jika air sungai besar akan kewalahan. Di ujung gua ini terdapat batu gong yang jika dipukul berbunyi seperti suara gong. Sebelum memasuki gua ada sebuah batu besar menyerupai kura-kura. Konon ketika itu Desa Watuagung kedatangan Punokawan dari Kraton Mataram dengan tujuan membuka wilayah Prigi. Tapi saat membedah desa, Punokawan dihadang kura-kura raksasa. Punokawan tidak mundur malah melawan. Bekal sebuah cemeti sakti dari Kraton Mataram, dipukulkan ke badan kura-kura hingga hewan raksasa itu berubah menjadi batu.
Di area ini pengunjung disambut udara pegunungan yang sejuk dengan aroma hutan jati karena lokasi itu kelilingi hutan jati yang rimbun. Dari tempat parkir menuju mulut gua, jalan yang sudah dipaving bersih membelah teduhnya pepohonan kayu jati. Begitu melewati mulut gua, pengunjung langsung memasuki ruang gua pertama seluas aula dengan langitlangit setinggi 20 sampai 50 meter, lebar gua sekitar 50 m. Keindahan dinding gua dengan stalagtit menggantung maupun stalagmit yang mencuat di sana sini, semakin terlihat artistik dengan siraman cahaya yang ditata cantik.
Kasiadi menjelaskan, sebenarnya Pemerintah Kabupaten Trenggalek tahun 1984 sudah mempromosikannya sebagai obyek wisata. Namun pengembangannya lamban sehingga belum banyak dikunjungi wisatawan. Rata-rata per bulan dikunjungi 3.500 sampai 4.000 orang. “Padahal tiket masuk hanya Rp 4.000 per orang,” tuturnya. Gua besar dan indah ini kini telah dilengkapi penerangan listrik dan jalan buatan sehingga mudah untuk mengamati macam bentuk artistik alami stalagtit dan stalagmit. Suasana sejuk dan segar karena air bersih yang mengalir di bawah gua membuat suasana nyaman. Di dalam gua masih terdapat ribuan kelelawar (lowo).
Untuk mencapai gua, ada angkutan umum dari Kota Trenggalek ke Durenan kemudian ke Gua Lowo. Gua terletak di Desa Watuagung, Kecamatan Watulimo, 30 km dari Kota Trenggalek. Juga 30 km dari Kota Tulungagung atau kurang lebih 180 km dari Kota Surabaya ke arah pantai selatan tepatnya ke arah Pantai Prigi. Lokasinya yang berada satu jalur dengan Pantai Prigi inilah yang membuat dua objek wsiata ini dala satu paket.
Saat Wakil Gubernur Drs. Saifullah Yusuf melakukan kunjungan kerja tahun lalu, Bupati Trenggalek, Dr. Ir Mulyadi WR, MMT. meminta Pemprov membantu upaya pengembangan objek wisata di Trenggalek. Terutama pengadaan eskalator atau terowongan di Gua Lowo untuk memudahkan pengunjung masuk. Menanggapi permintaan itu, Wagub berjanji bila biaya pengadaan terowongan tidak lebih dari Rp 1 miliar, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan akan mencukupinya. Rencananya 2011 pembangunan terowongan sudah dilaksanakan.
Penemuan Gua
Menurut Kasiadi, awalnya warga Desa Watuagung bernama Mbah Lomedjo masuk hutan mencari tempat bersemedi. Di situ ia menemukan gua kecil dekat kedung berwarna kebiru-biruan sehingga dinamakan Kedung Biru.
Letak kedung 600 meter timur laut Gua Lowo. Akhirnya Mbah Lomedjo mendapat mimpi bahwa di sekitar tempatnya ada sebuah gua besar tempat babi hutan, landak, musang, dan kidang bersembunyi. Suatu ketika, ditemukanlah mulut gua besar dan gelap dipenuhi kelelawar dengan bau menyengat.
Sejak itulah muncul nama Gua Lowo. Bahasa Jawa Kelelawar adalah Lowo. Sehabis mengunjungi Gua Lowo sebaiknya lanjutkan ke Pantai Prigi, Pantai Karanggongso, dan Pantai Damas. Jaraknya sekitar 12 km dan berada di satu jalur.

Tidak ada komentar: